Mengenal Sovereign Wealth Fund (SWF)

Sovereign Wealth Fund

Pada RUU Omnibus Law soal Cipta Lapangan Kerja, telah disebutkan oleh pemerintah tentang pembentukan lembaga SWF yakni Sovereign Wealth Fund untuk bisa mengelola serta menyimpan sejumlah aset atau dana milik negara. 

Aset di dalam SWF sendiri bisa berbentuk modal milik negara, aset dari BUMN, hasil yang diperoleh dari upaya pengembangan aset atau usaha, hibah serta sumber-sumber lain yang didapat secara sah dan resmi. SWF yang berupa badan hukum tersebut bisa melakukan investasi dengan cara langsung maupun tidak langsung, serta menjalankan kerjasama oleh pihak lain.

Apabila nantinya lembaga SWF mengalami kerugian, maka segala bentuk kerugian yang didapat dari SWF bukanlah sebuah kerugian dalam bentuk keuangan negara. 

Pengertian Lembaga SWF

Menurut Kementerian Keuangan Negara. Lembaga SWF merupakan sebuah jembatan finansial milik negara yang dapat mengatur keuangan atau dana publik serta menginvestasikannya ke hal-hal yang dibutuhkan dengan efektif dan beragam.

Sederhananya lembaga SWF merupakan tabungan milik negara. Kelebihan uang yang dimiliki oleh negara lalu diinvestasikan untuk tujuan agar bisa menghasilkan uang yang jauh lebih besar lagi. Maka dari itu, fungsi dari SWF ini adalah untuk stabilitas perekonomian, khususnya untuk melakukan investasi serta  mengurus tabungan negara memiliki masyarakat dan negara.

Menurut catatan dari Investopedia, lembaga SWF sendiri adalah mengelola uang investasi milik negara. Semua dana yang dikelola salah satunya dari devisa yang dimiliki oleh bank sentral dari negara, dana dari privatisasi, akumulasi dari surplus dagang maupun surplus pendanaan, dan hasil negara yang didapat dari ekspor segala macam sumber daya alam yang dimiliki.

Sumber anggaran yang didapat oleh lembaga SWF, didapat dari dua hal. Pertama, didapat dari tambang atau sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui seperti gas dan minyak. Kedua, dana yang didapat bisa melalui obligasi, aset dari saham, properti, dan logam mulia serta, bidang keuangan lainnya.

Contoh dari SWF yang mendapatkan dana dari sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui yakni minyak seperti Abu Dhabi dan juga Qatar Investment Authority. Sementara untuk contoh dari SWF yang mendapatkan dana dari aset keuangan negara seperti Holdings Privated Limited di Singapure.

Lima Kategori SWF yang Terkenal di Dunia :

  • Dana untuk cadangan investasi
  • Dana untuk cadangan pensiun
  • Dana untuk stabilisasi ekonomi
  • Dana untuk pengelolaan anggaran negara yang diperlukan untuk pembangunan.
  • Dana yang disiapkan untuk regenerasi atau tabungan masa depan. LPDP, yang bergerak di naungan Kementerian Keuangan Indonesia, Kemdikbud serta Kementrian Agama dapat masuk ke dalam kategori lembaga SWF ini. Lalu, LPDP sendiri akan memberi santunan berupa beasiswa terhadap tunas bangsa untuk bersekolah di dalam negeri atau luar negeri.

Kemungkinan Munculnya SWF di Indonesia

Hingga detik ini Indonesia tidak memiliki lembaga SWF. Namun pernah memiliki rencana tersebut, yakni PIP yang diatur berdasarkan aturan dari menteri keuangan. PIP tersebut berperan sebagai BLU.

Dari PIP sendiri menerima sejumlah dana awal sebesar 4 triliun. Sumber anggarannya cukup terbatas sebab devisa Indonesia belum terlalu besar serta sumber daya alam seperti gas dan juga minyak juga belum banyak. PIP sampai saat ini belum mengarah ke lembaga SWF, namun lebih cenderung ke bank pembangunan atau infrastruktur.

Dengan berdirinya selama 8 tahun, Lembaga PIP dilikuidasi di tahun 2015 sebab investasi yang dilakukan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Anggarannya kurang lebih 18 triliun langsung dialihkan ke PT. SMI untuk dijadikan sebagai bentuk bank infrastruktur alias bank pembangunan. Jenis aset nya berupa dana geothermal, dana tunai serta dana lain yang termasuk kas serta investasi secara langsung.

Rangking 10 besar SWF

Terdapat negara-negara di dunia yang membentuk Lembaga SWF agar bisa mengidentifikasikan pendapatan negara mereka. Seperti UEA, yang dimana negara tersebut begitu bergantung oleh ekspor minyak negaranya. 

Biasanya negara seperti ini akan menaruh sebagian devisanya ke lembaga SWF agar bisa berinvestasi di luar urusan minyak tersebut. Apabila harga minyak dunia turun, investasi yang sudah dilakukan ke lembaga SWF bisa digunakan untuk menutupi turunnya pendapatan sebuah negara.

Untuk diketahui bersama, terdapat 10 negara dengan ranking SWF yang tercatat terakhir tahun 2019. Negara yang berhasil mendominasi 10 besar lembaga SWF yakni. Singapura, Qatar, China, Kuwait, dan UEA.

Apabila diperhatikan dengan rinci setiap negara, total dana SWF dari negara China merupakan yang tertinggi dengan 2.192, 78 miliar dolar Amerika, lalu diikuti oleh negara Norwegia dengan 1.098,82 miliar dolar, kemudian Singapura 815,83 miliar dolar, UAE 696,66 miliar dolar, Kuwait 592,00 miliar dolar dan yang terakhir Qatar 328 miliar dolar.

Presiden Republik Indonesia yakni Jokowi membangun sebuah rencana besar untuk membentuk lembaga SWF dengan berlandaskan hukum UU Omnibus Law. Apabila SWF benar terbentuk tentu besar harapan agar bisa meningkatkan peluang investasi  serta menciptakan banyak lapangan kerja untuk masyarakat Indonesia.