Apakah Gojek dan Tokopedia Jadi Merger?

Sejak tahun 2019 sampai akhir 2020 isu terkait merger dua perusahaan raksasa antara Grab dan Gojek tersebut terus ramai diperbincangkan. Tetapi hingga permulaan tahun 2021 dilaporkan jika kedua perusahaan tersebut belum menemukan langkah terang terkait dengan berita merger tersebut.

Kabar yang beredar malahan gojek diberitakan akan bergabung dengan salah satu ecommerce terbesar tanah air, yaitu Tokopedia. Ternyata merger antara dua perusahaan raksasa ini sudah ramai diisukan dar tahun 2018 lalu.

Berita terakhir menyebutkan jika Gojek dan Tokopedia sedua menandatangani kesepakatan untuk kebutuhan merger. Tetapi lagi-lagi isu tersebut dibantah oleh pihak Tokopedia. Jika keduanya jadi merger tentu akan menghadirkan bentuk entitas baru. Tetapi berkaitan dengan bagaimana strukturnya nanti, tentu kedua perusahaan yang sama-sama menggunakan simbol warna hijau tersebut akan melakukan negosiasi terlebih dahulu, 

Jika keduanya merger, akan melahirkan entitas baru yang kuat

Kabar terakhir menyebutkan jika sampai sekarang ini Gojek sudah memiliki nilai valuasi yang fantastis, mencapai 10,5 miliar dolar AS atau jika dirupiahkan sekitar Rp 146,1 triliun. Disisi lain untuk Tokopedia nilai valuasinya sudah mencapai 7,5 Miliar dollar AS atau jika dirupiahkan angkanya mencapai Rp 104,4 triliun.

Jika keduanya jadi merger, akan melahirkan entitas baru dengan nilai valuasi yang sangat fantastis, yaitu mencapai 35 hingga 40 miliar atau Rp 504 triliun. Beberapa sumber menyebutkan untuk gojek sendiri akan mendapatkan saham sebesar 60 persen, sedangkan untuk Tokopedia sebesar 40 persen. 

Jika keduanya berhasil merger, maka bisa menjadi salah satu perusahaan digital dengan transaksi yang sangat besar. Keduanya akan melahirkan perusahaan yang sangat kuat dan juga saling melengkapi.

Hal ini mengingat masing-masing dari perusahaan tersebut, baik Gojek dan Tokopedia memiliki sektor berbeda namun sama-sama unggul. Tokopedia memiliki predikat sebagai salah satu ecommerce dengan valuasi yang besar. Sedangkan Gojek juga menjadi salah satu layanan transportasi berbasis online dengan nilai valuasi besar dan sudah memiliki layanan keuangan berupa Gopay. 

Keduanya jelas akan melengkapi satu sama lain. Ketika merger berhasil dan berjalan dengan lancar maka akan membuat layanan Tokopedia semakin luas mengingat Gojek kini sudah hadir di beberapa negara di Asia Tenggara. 

Lalu bagaimana nasib OVO?

Mengenai nasib dari layanan keuangan satu ini memang belum bisa dipastikan kejelasannya. Banyak kemungkinan yang menyebutkan terkait dengan nasib OVO kedepannya nanti. Beberapa memprediksi jika Tokopedia akan menjual saham OVO ke pihak Grab. 

Beberapa pakar dan analis menyebutkan ada kemungkinan besar Tokopedia akan menjual saham OVO ke Grab kemudian hanya mengandalkan Gopay untuk layanan pembayaran. Terlebih saat ini Gopay sudah selangkah lebih maju, dimana Gopay memiliki saham Bank Jago sebesar 22 persen. 

Belum lagi suntikan dana yang didapatkan Gojek dari pihak Facebook dan PayPal pada bulan Juni 2020 lalu. Berbeda dengan Grab yang sampai saat ini masih mengandalkan OVO karena dari tahun 2018 lalu belum berhasil mendapatkan izin untuk mendirikan GrabPay di Indonesia.

Rencana untuk melakukan IPO

Rencana merger antar kedua perusahaan tersebut membuka jalan antar keduanya untuk bisa melakukan IPO atau penawaran saham pertama kalinya. Ada langkah yang bisa diambil untuk melakukan skenario tersebut. Misalnya, pihak Tokopedia yang melantai pertama kali di bursa saham Indonesia, kemudian baru merger dengan Gojek.

Jika sudah melakukan merger, baru keduanya bisa melakukan IPO untuk melantai di bursa saham Amerika Serikat. 

Kemudian ada skenario lain yang banyak diperbincangkan, dimana kedua perusahaan tersebut melakukan merger terlebih dahulu baru keduanya melantai di bursa saham di Jakarta serta Amerika Serikat.

Menjadi kekuatan baru untuk bersaing dengan Shopee

Penting diketahui jika kedua perusahaan tersebut baik Gojek dan Tokopedia sama-sama memiliki beberapa pemegang saham yang sama, misalnya Google, Softbank serta Tamasek Holdings. Kabar berkaitan dengan rencana merger tersebut awalnya dimotivasi oleh Masayoshi Son yang merupakan CEO dari Softbank.

Dorongan untuk melakukan merger tersebut didasarkan karena banyak investasi yang dilakukan perusahaan tersebut malahan merugi. Kabar menyebutkan jika tahun 2019 lalu Softbank mengalami kerugian hingga 17,7 miliar dollar AS. Dan pada saat tersebut, perusahaan asal Singapura malah semakin maju di Asia Tenggara.

Salah satunya Shopee yang semakin meluas dengan berbagai layanan menariknya. Bahkan kini Shopee sudah memiliki layanan antar makanan yang dinamakan Shopee Food dengan driver yang merupakan mitra dari Shopee sendiri.

Kemudian ada ShopeePay yang dikabarkan memiliki nilai valuasi lebih dari Gopay. Ini menjadikan PR berat untuk banyak investor. Oleh karena itu sangat masuk akal sekali jika adanya merger antara dua perusahaan tersebut diharapkan bisa menyaingi Shopee dan melahirkan kekuatan baru di pasar teknologi tanah air. 

,